0%
logo header
Selasa, 24 Februari 2026 20:40

Fenomena Takjil War dan Tren Digital Ramadan: Dialektika Spiritualitas, Budaya Populer, dan Tantangan Peradaban Islam Berkemajuan

Fire
Editor : Fire
Thahirtalas (Dosen-Aktivis Kebudayaan dan Perilaku Sosial Universitas Muhammadiyah Makassar)
Thahirtalas (Dosen-Aktivis Kebudayaan dan Perilaku Sosial Universitas Muhammadiyah Makassar)

IDMEDIA.ID, MAKASSAR – Suasana ruang diskusi zooming bertajuk Kajian Utama Realitas Masyarakat dan Agama (KURMA PIP) dengan mengangkat tema “Etnografi Ramadhan 1447H, forum kajian dan diskusi Gen Z ini diinisasi oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Sulawesi Selatan menghadirkan narasumber Dr. Hadisaputra, S.Pd., M.Si. pakar antropologi sosial kemasyarakatan Universitas Muhammadiyah Makassar cukup mendapat respon antusias dari peserta yang didominasi pelajar.

Acara yang dipandu langsung oleh Fahrul Dazon dimulai sejak pukul 16.00 berakhir tepat pukul 18.00 Wita jelang buka puasa. Dari pemaparan narasumber beberapa hal penting menjadi catatan dan perhatian peserta; Ramadhan secara normatif dipahami sebagai bulan suci yang menghadirkan transformasi spiritual melalui puasa, pengendalian diri, peningkatan ibadah, serta penguatan solidaritas sosial.

Dalam kerangka ideal, Ramadhan adalah ruang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), penguatan empati terhadap kaum dhuafa, dan pembentukan etika sosial yang lebih adil dan berkeadaban. Namun dalam realitas sosial kontemporer, Ramadhan juga tampil sebagai fenomena kultural yang dinamis, di mana praktik keagamaan berinteraksi dengan kekuatan ekonomi, media, dan budaya populer.

Baca Juga : Kerja Sama HMJ Manajemen dan Dinas Inkubator UMKM Kota Makassar Dorong Pengembangan UMKM Mahasiswa

Fenomena seperti takjil war, festival kuliner berbuka puasa, serta maraknya konten digital bertema Ramadhan memperlihatkan adanya pergeseran ekspresi religiusitas di ruang publik. Ramadhan tidak lagi hadir semata sebagai pengalaman spiritual personal, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang diproduksi, direpresentasikan, dan dalam batas tertentu dikomodifikasi.

Etnografi sebagai pendekatan ilmiah membantu membaca fenomena ini secara mendalam—bukan dengan penghakiman normatif, melainkan dengan memahami bagaimana makna Ramadhan dinegosiasikan dan direkonstruksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Clifford Geertz, agama merupakan sistem simbol yang membentuk suasana hati dan motivasi kolektif. Ramadhan, dengan seluruh ritual dan tradisinya, adalah simbol yang tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membentuk realitas sosial.

Baca Juga : Pendaftaran Resmi Ditutup, OlympicAD VIII akan diikuti 8.557 Peserta dari Seluruh Indonesia

Ketika takjil berubah menjadi tren gaya hidup dan konten Ramadhan menjadi bagian dari kompetisi digital, terjadi transformasi simbolik. Simbol kesalehan tetap ada, namun berpotensi mengalami reduksi makna ketika lebih menonjolkan estetika daripada etika. Tantangannya bukan pada keberadaan simbol, melainkan pada kedalaman nilai yang dikandungnya.

Pandangan Talal Asad memperkaya analisis ini dengan menegaskan bahwa praktik keagamaan selalu berada dalam relasi kuasa dan konstruksi historis tertentu. Puasa sebagai disiplin spiritual membentuk moralitas individu, tetapi dalam masyarakat modern ia berinteraksi dengan kekuatan pasar dan industri media.

Komodifikasi Ramadhan melalui promosi produk, diskon besar-besaran, hingga konten viral menunjukkan bahwa ruang sakral kini berdialog intensif dengan logika kapitalisme. Otoritas makna tidak lagi hanya dimonopoli oleh institusi keagamaan, melainkan juga dipengaruhi oleh algoritma media sosial dan kepentingan ekonomi.

Baca Juga : Matangkan Persiapan Rakernas 2026, IKA Unismuh Makassar Siap Launching Gedung 5 Lantai

Dari sudut pandang sosiologis, Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa praktik keagamaan adalah bagian dari habitus—pola disposisi sosial yang terinternalisasi.

Budaya konsumtif yang mengiringi Ramadhan dapat dipahami sebagai reproduksi struktur sosial modern, di mana simbol kesalehan juga berfungsi sebagai modal simbolik. Aktivitas berbagi takjil, unggahan ibadah, atau partisipasi dalam tren religius digital berpotensi membentuk citra religius di ruang publik.

Hal ini tidak selalu negatif, namun menjadi problematik ketika orientasinya bergeser dari transformasi diri menuju performativitas sosial.

Baca Juga : Urgensi Sastra dan Masa Depan Pembelajaran Bahasa Inggris

Sementara itu, Victor Turner memandang ritual sebagai fase liminal yang menciptakan communitas—solidaritas kolektif yang melampaui sekat sosial. Secara ideal, Ramadhan adalah ruang liminal bersama yang memperkuat kebersamaan umat.

Akan tetapi, dalam era digital, solidaritas tersebut menghadapi tantangan fragmentasi akibat polarisasi opini dan kompetisi simbolik. Di sisi lain, teknologi juga membuka peluang solidaritas baru melalui kajian daring, penggalangan dana digital, dan kampanye sosial berbasis komunitas.

Dengan demikian, Ramadhan tetap memiliki potensi memperkuat kohesi sosial, meskipun bentuk ekspresinya mengalami transformasi.

Baca Juga : Urgensi Sastra dan Masa Depan Pembelajaran Bahasa Inggris

Dalam konteks Indonesia, Azyumardi Azra menegaskan bahwa Islam Indonesia bersifat adaptif dan dialogis dengan perubahan sosial. Tradisi Ramadhan di Indonesia sejak lama menunjukkan integrasi antara norma syariat dan ekspresi budaya lokal.

Transformasi digital dan budaya populer bukanlah indikasi kemunduran, melainkan bagian dari proses adaptasi historis. Namun, adaptasi tersebut harus tetap berakar pada orientasi moral dan spiritual agar tidak kehilangan substansi nilai.

Kita juga pernah membaca pengamatan etnografis jangka panjang terhadap Muhammadiyah oleh Mitsuo Nakamura menunjukkan bahwa gerakan ini dibangun di atas rasionalitas, etika kerja, dan semangat pembaruan.

Baca Juga : Urgensi Sastra dan Masa Depan Pembelajaran Bahasa Inggris

Dalam kerangka ini, dinamika Ramadhan kontemporer merupakan tantangan sekaligus peluang untuk meneguhkan kembali nilai tajdid. Rasionalitas dan kesadaran kritis menjadi instrumen penting agar praktik keagamaan tidak tereduksi menjadi simbol seremonial.

Bagi generasi muda, khususnya yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah, fenomena takjil war dan tren digital Ramadhan harus dibaca sebagai ruang kontestasi makna. Ramadhan tidak boleh berhenti pada festival konsumsi atau estetika konten, tetapi harus diarahkan kembali pada nilai pengendalian diri, empati sosial, dan pembaruan moral.

Tantangan hari ini bukan menghapus budaya populer, melainkan mengelolanya secara kritis agar tetap berorientasi pada dimensi esoteris yang mendalam.

Baca Juga : Urgensi Sastra dan Masa Depan Pembelajaran Bahasa Inggris

Tulisan ini menegaskan bahwa dinamika Ramadhan kontemporer tidak identik dengan hilangnya makna, melainkan menunjukkan adanya pergeseran dan negosiasi makna dalam masyarakat modern.

Ramadhan akan tetap menjadi ruang transformasi peradaban apabila umat, khususnya generasi muda (Gen-Z), mampu mengintegrasikan spiritualitas, rasionalitas, dan tanggung jawab sosial secara seimbang.

Dengan demikian, Ramadhan bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi momentum strategis untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan dan berakar pada nilai autentik.

Baca Juga : Urgensi Sastra dan Masa Depan Pembelajaran Bahasa Inggris

Makassar, 7 Ramadhan 1447H./24 Februari 2026 M.

Thahirtalas
Dosen-Aktivis Kebudayaan dan Perilaku Sosial
Universitas Muhammadiyah Makassar

Penulis : Thahirtalas
Redaksi Idmedia.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@idmedia.id atau Whatsapp +62 852-9841-2010