Workshop dan Lomba Mural di Monumen Mandala: Merangkai Semangat Pembebasan dan Budaya Sulawesi Selatan

IDMEDIA.ID, – MAKASSAR – Ruang publik bersejarah di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat kembali semarak dengan warna dan semangat baru melalui kegiatan Workshop dan Lomba Mural, yang berlangsung pada 5–6 November 2025.
Kegiatan ini diinisiasi dan dilaksanakan oleh UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie, di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Ibu Meirani Tenriawaru, S.STP., M.Si.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Ir. H. Muhammad Arafah, S.T., M.T., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadikan ruang publik sebagai wahana edukasi dan apresiasi seni yang dapat memperkuat identitas kebangsaan.
“Ruang publik seperti Monumen Mandala bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga ruang dialog budaya. Melalui seni mural, kita dapat mempertemukan sejarah, kreativitas, dan semangat kebangsaan dalam satu tarikan napas,” ujar Arafah.
Workshop menghadirkan dua narasumber sekaligus juri lomba mural, yaitu Iswan Bintang, S.Pd., M.Sn. dengan materi “Dasar-Dasar Mural: Dari Dinding ke Makna”, serta Rahmat Qadrianto, S.Pd., M.Sn. dengan materi “Teknis Mural Kontemporer.”
Dalam pemaparannya, Iswan Bintang menekankan filosofi “membaca ruang, menulis makna” sebagai dasar dari praktik mural.
Menurutnya, mural bukan sekadar lukisan dinding, tetapi bahasa visual yang berdialog langsung dengan masyarakat dan ruang hidup mereka.
“Mural adalah seni yang membumi. Ia lahir dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat,” tutur Iswan.
Sementara itu, Rahmat Qadrianto menyoroti aspek teknis dan kekinian dari seni mural, mulai dari komposisi, pemilihan warna, hingga strategi adaptasi visual di ruang publik modern.
Workshop ini mengusung pendekatan “belajar dari ruang”, di mana peserta diajak tidak hanya memahami teknik menggambar, tetapi juga membaca konteks sosial, budaya, dan simbol yang hidup di sekitarnya. Kolaborasi, komunikasi, dan refleksi sosial menjadi inti dari seluruh proses kegiatan.
Sejalan dengan semangat tersebut, Lomba Mural yang digelar di area Monumen Mandala mengusung tema “Dari Timur: Semangat Pembebasan dan Budaya yang Menghidupkan.”
Tema ini merefleksikan sejarah perjuangan pembebasan Irian Barat serta nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan seperti siri’, keberanian, dan solidaritas — nilai-nilai yang menjadi fondasi semangat kebangsaan.
Mural-mural karya peserta dipasang pada media papan multipleks, sehingga dapat dipindahkan dan dipamerkan kembali di berbagai ruang publik tanpa kendala perizinan. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan seni publik yang inklusif, tertib, dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie berharap dapat menumbuhkan komunitas mural lokal yang mampu mengembangkan praktik seni reflektif dan kontekstual, sekaligus memperkuat hubungan antara sejarah, kebudayaan, dan ekspresi kreatif masyarakat Sulawesi Selatan.