Kisah Perjuangan Zainal Abidin: Anak Kampung yang Berhasil Meraih Gelar Akademik Tertinggi, Doktor Hukum Islam

Kisah Perjuangan Zainal Abidin: Anak Kampung yang Berhasil Meraih Gelar Akademik Tertinggi, Doktor Hukum Islam

IDMEDIA.ID, MAKASSAR – Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hidup seorang anak kecil yang kala itu tak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menyandang gelar akademik tertinggi: Doktor.

Anak kampung itu bernama Zainal Abidin, lahir dan tumbuh di Desa Pulau Kecil, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, sebuah wilayah terpencil yang hanya bisa dicapai dengan speedboat kecil menyusuri sungai dan laut atau jalur darat dengan timbunan pohon kelapa dan pohon pinang.

Pada Kamis, 16 Oktober 2025, Zainal resmi meraih gelar Doktor Syariah Hukum Islam dari Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, setelah dengan gemilang mempertahankan disertasinya berjudul “Konsep al-Tawaqquf dalam Ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Perspektif Empat Imam Mazhab.”

Momen itu menjadi bukti nyata bahwa jarak, desa kecil, anak kampung bukanlah penghalang bagi cita-cita, dan asal-usul bukanlah penentu masa depan.

Tumbuh dari Desa Terpencil dengan Cinta Orang Tua dan Guru

Zainal Abidin bukanlah anak kota besar dengan akses pendidikan modern. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, di lingkungan masyarakat kampung yang religius dan bersahaja. Jalan setapak berlumpur serta keterbatasan fasilitas belajar tak pernah menjadi alasan baginya untuk menyerah.

Yang menjadi kekuatannya adalah doa dan didikan orang tua, ketulusan guru-guru, dan semangat belajar yang tak pernah padam. “Saya hanya anak kampung dari desa pulau kecil. Saya tidak punya kelebihan apa-apa, kecuali keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan,” ujar Zainal dengan mata berkaca-kaca selepas sidang promosi doktornya.

Sejak SD di desanya, hingga melanjutkan SMP Islam Ihyaul Ummah dan Pondok Pesantren Modern KMI Assalam di Jawa Timur, Zainal tumbuh sebagai pribadi yang ulet. Ia pernah mengabdi sebagai guru pesantren di KMI ASSALAM Jawa Timur, juga pernah mendedikasikan dirinya sebagai pengajar bahasa Arab di DDI Pulau Kijang, lalu kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Daeng, Makassar.

Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian

Tahun 2014 menjadi awal babak baru. Dengan beasiswa penuh dari Yayasan Muslim Asia (AMCF), ia menempuh kuliah Strata Satu di Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar, jurusan Ahwal Syakhsiyyah. Ia lulus dengan predikat cum laude, lalu langsung melanjutkan S2 di UIN Alauddin Makassar dan kembali meraih predikat terbaik (cum laude). Zainal juga pernah lolos mendapatkan beasiswa dari ASFA Foundation untuk mengikuti Daurah Internasional di Ummul Quro Makkah, Saudi Arabia. Zainal juga saat ini terdaftar dan diterima sebagai pengajar bahasa Arab pada program Mata Garuda LPDP Sulsel in Action 2025.

Puncaknya, pada tahun 2025, Zainal menyelesaikan studi doktoralnya di kampus yang sama — bukan sekadar menyandang gelar akademik, tetapi juga mempersembahkan karya ilmiah yang bernilai strategis bagi pengembangan hukum Islam di Indonesia.

Peran Orang Tua, Keluarga, dan Guru

Dalam setiap langkahnya, Zainal tak pernah lupa akar perjuangannya: orang tua dan guru-guru. “Kalau bukan karena doa orang tua, kasih sayang keluarga, dan bimbingan para guru di setiap jenjang pendidikan, saya tidak akan sampai di titik ini,” ucapnya haru.

Ia mengakui bahwa keberhasilannya bukan hasil perjuangan pribadi semata, tetapi buah dari tangan-tangan mulia yang membimbingnya sejak kecil — dari ruang kelas sederhana di desa, hingga ruang sidang terbuka di kampus besar.

Dari Pulau Kecil untuk Indonesia

Kini, Zainal Abidin berdiri sebagai dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Makassar, Pembina Markaz Al-Qur’an Nurudda’wah, Manajer Operasional MASZ di Sulawesi Tenggara, Sekrterasi Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Makassar, Ketua Devisi Pembinaan Masjid LPCR-PM PWM Sulawesi Selatan, Wakil Ketua PCM Mamajang dan aktif dalam berbagai organisasi Islam lainnya. Ia bukan hanya simbol kesuksesan akademik, tetapi juga teladan bahwa anak kampung pun mampu berdiri sejajar di podium keilmuan tertinggi, ketika memiliki tekad, kejujuran, dan doa yang tak pernah putus.

Inspirasi yang Menyala untuk Generasi Muda

Perjalanan hidup Zainal Abidin menjadi cermin bagi ribuan anak desa di seluruh Indonesia bahwa tak ada jarak yang terlalu jauh bagi mimpi, dan tak ada kemiskinan yang dapat menghalangi ilmu, bila hati terus bersyukur dan berjuang.

Di tengah dunia yang sering mengagungkan kemewahan, kisahnya menjadi fase kejujuran perjuangan mengajarkan bahwa kesuksesan sejati lahir dari kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan.

Selamat, Doktor Zainal Abidin, semoga ilmu dan gelar akademik yang diraih memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.

Baca Juga